Senin, 10 Oktober 2011

TANPA JUDUL


SAGO

Kicau  burung dan hamparan persawahan di Sago tempat ku lahir ini begitu menggugah. Burung pipit yang hampir setiap pagi selalu menghampiri Pepadian untuk mengisi  perut-perut kecil mereka. Hingga sang Petani mulai mengayunkan sebatang jerami dan berkata wuuus..hahh…suara yang membuat burung-burung pipit itu kembali terbang. Udara yang begitu kurindukan dan sudah 5 tahun belakangan ini tak pernah kurasakan. Harum tanah pagi yang diguyur hujan tadi malam, udara sejuk, dan tak ada bising kendaraan kecuali suara goesan dan rantai-rantai sepeda  ontel milik para petani yang siap ke sawah yang mereka garap. Kulihat beberapa  pemuda usia 15 tahunan lari pagi menyambut terik mentari ke arah laut. Memang dari rumahku dan laut tak begitu jauh. Bahkan jika suatu saat terjadi tsunami maka rumahku akan terkena tsunami tersebut dan pastinya atas kehendakNYA. Ku yakin pagi ini banyak nelayan-nelayan menjajaki ikan di tepi pantai dan bersiap melayani masyrakat sekitar untuk membeli ikan yang masih segar...dan harganya masih murah.
              “ Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan ?”

  ” Maka nikmat Tuhan-mu yang mankah yang kamu dustakan?


Dalam surat ini Allah mengulang ayat ini sebanyak 29 kali......jelas terlihat sudah akan Kekuasaan yang dimiliki Allah... dan mengakhirinya dengan...

”Maha Suci nama Tuhan-mu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan”

Memang benar Keagungan dan Kemuliaan Allah tak ada yang menandingi. Hampir sudah sepekan aku di Pesisir Selatan. Wilayah Indonesia yang terkenal akan pariwisata lautnya. Namun waktu sepekan ini kuhabiskan dirumah saja. Rumah Gadang [1]yang di bangun oleh Apak[2] ketika menikah dengan Amak. Rumah ini menjadi saksi bisu kenangan masa silam yang sempat ku lewati dengan almarhum Apak. Apak adalah laki-laki biasa dari keluarga juga biasa saja. Pekerjaan Apak adalah  melaut sama seperti yang lain. Apak meninggalkan kami ketika usiaku 8 tahun dan Udaku 10 tahun karena sakit angin duduk.

            Amak adalah ibu rumah tangga yang menghabiskan hidupnya bersama kami namun sejak ditinggal Ayah. Amak membiayai sekolah kami dengan sambil menjual goreng pisang keliling kampung. Aku sering ikut Amak menjajaki pisang-pisang kami dari kampung satu ke kampung sebelah setelah usai sekolah.

 ” Pisang..Pisang gorengnya Bu..Amak..Ayek”[3]

Ah..kenangan 10  tahun silam namun inilah yang mengawali kehidupan kerasku. Aku hanya pamit jalan-jalan sebentar pada Amak. Nanti Amak kebingungan mencari aku maklum aku putri satu-satunya. Ku berjalan kembali pulang ke rumah sambil terus menikmati alam yang begitu indah bahkan Leonardo Da Vinci takkan bisa melukis seindah dan senyata lukisan Allah...Pemilik segala keindahan yang tak tertandingi.

Kulihat Amak tengah asyik menyapu halaman rumah dan membersihkan taman. Aku bersegera menghampiri Amak sudah lama aku tak membantu Amak sejak kepergianku ke Jakarta.

” Biar Rosna bantu mak..”
“ Ya..ayo sama Amak, berdua kita bersihin nih taman..udah gak berbentuk lagi”

Akupun mulai mencabut rumput dan memotong ranting-ranting pohon yang sudah menjalar ke jendela rumah, menyapu daun-daun kering dan mengumpulkannya dan tidak membakarnya sebab aku ingat Amak selalu melakukan ini. Kata Amak untuk dibuat pupuk, dan menjaga kesehatan lingkungan. Amak masih kuat dan sangat ulet dalam hal rumah tangga dan  untungnya kepandaian Amak itu di wariskan padaku kecuali menjahit. Amak biasa mendidikku dengan gigih mulai dari memasak, mencuci, berkebun semua diajarkan oleh Amak kecuali melaut karena Amak tak pandai melaut dan mabuk laut kata Amak. 

Ketika kami tengah berjuang membersihkan taman kulihat Uda[4] yang sudah pulang dari pasar menjual hasil tangkapan ikannya semalam. Dan beberapa ikan dan itu ikan karang kesukaanku...



“ Uda, Sering manjain aku belakangan ini?!
” iya..biar kamu gak pergi lagi dan...”
”kenapa berhenti Uda...dilanjutin dong..”
  ”....”
” U...DAAAAA”



[1] Rumah gadang (adalah rumah adat budaya minangkabau, yang  terbuat dari kayu dan memiliki atap yang seperti tanduk kerbau, rumah itu beruangan ganjil seperti 3 ruang, 5 ruangan dan rumah ini)
[2] Apak (Bapak)
[3] Amak (Ibu),  Ayek (kakek/nenek)
[4] Uda adalah panggilan untuk kakak laki-laki baik kanding maupun tidak

Teringat subuh tadi, aku sholat berjamaah disebuah musholla tua yang tak jauh dari rumah. Sang imam membaca surat Ar-Rahman yang belakangan ini sudah menjadi surat favorit ku. Lantunan sang imam membuat aku teringat masa kecil dulu…ketika aku dan teman-teman mengaji dengan Ustad Nursalim, waktu mengajar dengan beliau aku sering kena marah sama ustad Salim sebab ketika minta tanda tangan beliau dikertas hasil ngajiku aku buat namanya Ustad Nurzalim…yang kata beliau artinya orang yang suka menganiaya. Dan sejak itulah nama ustad itu menjadi gurauan aku dan teman-teman semasa kecilku. Pagi ini semakin dalam dan serasa membuncah kurasakan akan sambutan Allah. Dalam rangkulan dan sapaan Nur Ilahi yang begitu hangat.

Sabtu, 21 Mei 2011

KARENA KAMU ADALAH BATU BATA TERBAIK PERADABAN...

Untukmu para syahidah tangguh..
Perindu syahid....
yang kini meski terseok-seok ku melepas mu..
namun di persimpangan nanti..kan kutemui bahagia..
sebab ku kan melihat mu telah berhasil membangun negeri..
Jika, harus ku meronta kemarin...
mungkin kan ku lakukan..
Namun ku tahu di setiap pertemuan pasti ada perpisahan..
Mungkin Engkau kan bertanya...
Mengapa harus berpisah ketika
semua tlah tejadi..
Di rumah inilah kita membangun cinta..
memahami persaudaran..
berbagi duka, canda...
Meski perjuangan itu harus tertatih kta lakukan..
untuk membuatnya begitu berasa di jiwa..
akan arti persaudaraan..
kini, ku melepasmu...bukan berarti tak sayang..
dan melupakan mu...
namun, ku tahu Engkau tlah ditempa, di bina, di asah hingga..
Kini Engkaulah sang penerus..meski
bukan bersamaku..di lain tempat dan suasana..
Engkaulah batu bata peradaban..
Mereka di sana membutuhkan ulUran tangan perkasa mu...
MAka...hadapilah dengan semangat yang membara..
Buktikan pada semua...Engkau mampu...
Wahai...Wanita penerang dunia
La..Tahzan
Kita berpisah hanya sementara
dalam hitungan malam, hari, bulan..
Tak inginkah engkau?..
Perpisahan kini..akan berbuah pertemuan abadi di akhirat..
Jika pada akhirnya kita jua kan berpisah melalui maut..
mengapa kita tak sanggup kini...
maka bersabarlah..
Allah sedang memperdagangkan syurgaNYA untuk kta...
maka siapa yang berani membelinya..
MEREKALAH...
BATU BATA TERBAIK PERADABAN..
Di sini bukan akhir cerita kita..
tapi awal episode...terbaru...dari kehidupan..
Bayangkanlah...pejuang..
takkan terasa kalau selama ini perjuangan kita tlah menoreh hasil..
Jika..kita tak berpisah...
Sebab ladang dakwah terhampar luas tak berbatas dinding..
dan tugas kita hanya menyemainya di mana kita berada...
ini semua ku lakukan..
KARENA ENGKAU BATU BATA TERBAIK PERDABAN....

                                                                                                                           Relung jiwa, Mei 2011

                                                                                                                             Dyah A.,Bm

Selasa, 30 November 2010

"Assalamualaikum...."
Ku dengar, panggilan salam seorang pria dari luar. Ku lirik jam pada saat itu..tertera di sana bahwa hari sudah jam 08.00 malam.Kupikir kembali, apakah ku ada janji?. Sipa yang bertamu malam-malam begini?Dan suara itu...suara yang sering ku dengar selama dua bulan ini dan aku tak tahu siapa pemilik suara itu.Ku lihat ibu di kamarnya...Ah..Ibuku sedang menidurkan adik kecilku Rini...Kasihan Ibu, ia begitu letih karena baru saja pulang dari rumah Bu Rt.Ibuku bekerja disana sebagi pembantu rumah tangga tapi Ibu tak pernah malu..Ibu selalu bilang pada kami anak-anaknya bahwa tak ada yang perlu dimalukan sebab inikan pekerjaan halal...Ah..Ibu kaulah segalanya....
Teringat lima tahun yang silam, ku lihat ayah sedang bersiap-siap pergi ke kantornya yang teretak di Tabing. Ku lihat ia begitu gagah dan tampan dalam usia yang sudah 45 tahun, Ayah terlihat sangat bijaksana dengan balutan jas dan dasi hitam yang dipadu dengan kemeja lengan panjang berwarna biru, warna kesukaan Ayah dan Ibu yang membelikannya ketika ulang tahun pernikahan mereka yang keempat.

"Ayah..." sapaku sambil belari kecil mendekatinya
"Nita..mau berangkat ke sekolah sama Ayah?" tanya Ayah sambil mengambil tasnya dari tangan Ibu...


                                                                                                                                        Continue....

Sabtu, 27 November 2010

Bercermin Pada Hati yang Lain

Sahabat..
Cinta itu terkadang begitu sangat menyenangkan.
Cinta punya arti tersendiri bagi setiap orang dan selalu berbeda-beda.
Sahabat..
Pernah aku sama sepertimu...
merasakan cinta itu begitu indah dilihat dan didengar..
begitu di tunggu kehadirannya
Sahabat...
Cinta mungkin akan menemukan persimpangan dan
akan ada sebuah pelabuhan yang setia menanti kedatangan cintamu..
Persimpangan yang membuat hati ini berpindah arah dan tujuan..
Pelabuhan adalah tempat singgah kapal layar yang kita buat..
Sahabat...
Pernah ku sempat jatuh dalam cinta pada yang bukan halal bagiku..
Namun itu dulu...dilema antara dua pilihan..tetap bertahan dengan cinta semu ataukah...
Kembali pada Sang Pemberi Cinta...sebab..
Ku tahu aku tercipta dari tuylang rusuk yang tlah Dia janjikan...
Sahabat...
Ketika itu syetan tengah menari indah..Lalu ku teringat akan dilema yang sama pd belhan hati yang lain..
Bahkan tlah berjalan lama tnpa kepastian...
Sahabat...
bercermin pd belahan hati yang lain membuatku meninggalkan cinta semu itu...
Dan kini ku rasakan damai yang tiada kira..
Dan ku yakin engkau kan temukan yang sama dengankuu..
rasa cinta yg indah, damai, tenntram, tanpa takut ia kan pergi..
karena rasa ini ibaratkan melepas segenggam bara yang kita kira buah yang begitu manis..
Sahabat..
Labuhkanlah cintamu pd Rabbul Izzati...
Sang Maha Setia Memberi Cinta....

                                                                                                   For U Ukhty, Cinta tulus....
                                                                                                   Batusangkar,  23 November 2010